Mengapa Harus ke Barat?

Semenjak lama, pemikir orientalis telah berusaha keras untuk melakukan dikotomi antara Timur dengan Barat. Barat identik dengan kemajuan, kaya, dan berpendidikan tinggi. Sedangkan Timur selalu diasosiasikan dengan keterbelakangan, tergantung, dan miskin. Pada sisi tertentu disparitas antara Timur dan Barat memang benar ada, meskipun sebenarnya, mayoritas pembedaan itu lebih banyak direkayasa, sebagai bagian dari sekenario besar kolonialisme, Barat—Eropa terhadap Timur—Asia. Pemikiran tersebut, berusaha memberi legitimasi, bahwa Barat adalah lebih tinggi, lebih berbudaya, dan Timur harus selalu berkaca padanya—Barat. Dengan kerangka pikir orientalis, Timur akan terus-menerus merasa, kerdil, terbelakang, dan tak dapat hidup tanpa bantuan Barat. Paradigma semacam ini, tentunya tak layak untuk terus dipertahankan pada masa sekarang, karena hanya akan menguatkan teori ketergantungan, yang memang diciptakan oleh Barat.

Teori ketergantungan (dependence), merupakan sisi lain dari teori imperialisme. Teori imperialisme menerangkan hubungan antara masyarakat maju dengan masyarakat terbelakang, dengan menekankan pada proses yang terjadi pada masyarakat maju. Sedangkan teori ketergantungan merupakan manifestasi dari telaah mendalam hubungan masyarakat maju dan terbelakang, dengan masyarakat terbelakang sebagai titik pusatnya. Teori ini berusaha menjelaskan tentang proses sosial ekonomi yang terjadi di negara-negara yang tergantung pada negara yang lain—Timur terhadap Barat (Roxborough, 1986: 46-48). Dengan basis teoritis itulah, Barat mencoba membangun relasi dengan Timur, Barat menjadi Tuan dengan imperialismenya, dan Timur diposisikan sekedar menjadi penghamba, akibat sebuah proses ketergantungan yang direkayasa.

Pada masa kolonialisme, Boeke dengan pemikiran dualisme ekonominya pernah berkata, bahwa yang baik menurut Barat, belum tentu baik dan sesuai bagi Timur. Meski sudut pandang pemikiran ini sangat bernuansa orientalis, setidaknya pandangan Boeke bisa menjadi instrumen untuk melihat dikotomi Timur dan Barat. Menurut Boeke, Timur memang berbeda dengan Barat, Timur dengan watak statis tradisionalnya—yang oleh Boeke disebut sebagai mentalitas pra kapitalis, dalam banyak hal lebih mengutamakan kepentingan sosial di atas segala-galanya. Sedangkan Barat, sedari awal memang sudah berpikir tentang keuntungan—profit individu, mereka lebih berpikir rasional. Dengan sudut pandang serupa, Gertz mencoba membantah pemikiran Boeke. Menurut Gertz, watak statis Timur justru terjadi akibat desakan struktural kolonialisme, yang mengakibatkan terjadinya keterbelakangan—kemungkretan (involusi) di Timur. Mereka—Timur menjalankan mekanisme ditribusi kemiskinan (shared of poverty) sebagai upaya pertahanan terhadap serangan Barat yang kian mendesak. Terlepas dari serangkaian kritik dan pujian terhadap kedua pemikiran tersebut. Yang pasti telaah ilmiah mereka telah mempertegas dikotomi Timur dan Barat. Keseluruhan teori yang menjelaskan relasi antara Timur dan Barat, selalu diciptkan oleh Barat dengan kacamata orientalis. Sebab itulah, yang membuat kesan, bahwa Barat selalau lebih unggul, dan Timur senantiasa harus melihat kepadanya, bahkan dalam semua hal.

Jika mau jujur, Timur tentunya tidak serendah apa yang selama ini digembar-gemborkan oleh Barat. Timur memiliki jamak kearifan, Timur kaya dengan local resources, yang pada tingkat tertentu lebih unggul bila dibandingkan dengan Barat. Proses hipnotis yang banyak dilakukan para pemikir orientalis Barat terhadap pikiran orang-orang Timur, berakibat pada munculnya watak ketidakpercayaan diri. Orang Timur malu dengan keadaannya, karena dalam pikirannya, yang tertanam adalah Barat lebih unggul. Mereka enggan untuk melakukan pengkajian mendalam terhadap potensi dan sumberdaya yang dimilikinya. Bahkan untuk sekedar menampakkan corak ketimurannya sekalipun, tak cukup memiliki keberanian. Hal semacam ini justru yang membuat Timur semakin terbelakang dan tergantung dengan Barat. Pada zaman globalisasi seperti sekarang, ketika terjadi suatu proses pengintegrasian antara Timur dan Barat, tanpa adanya lagi batas ruang dan waktu, jika watak merasa terbelakang, masih terus dipertahankan, maka Timur akan semakin terpinggirkan, tergantikan oleh Barat. Globalisasi memiliki aspek memberdayakan (enabling) dan aspek yang menghambat (constraining). Aspek constraining dari globalisasi, memiliki implikasi pada semakin terdistorsi dan terestriksinya unsur-unsur kedaulatan nasional, apalagi ketika kita harus terus-menerus tergantung kepada Barat. Karenanya, yang seharusnya dilakukan ialah, bagaimana melakukan pengkajian serius terhadap kearifan Timur dan sumberdaya lokal ketimuran, sebagai bentuk perlawanan terhadap Barat. Kita—Timur harus merasa, bahwa kita tidak lebih rendah daripada Barat. Melalui aspek enabling dari globalisasi, kita manfaatkan keunggulan yang ada pada Barat, tanpa harus bergantung kepadanya. Pemikiran orientalis yang memaparkan relasi Timur dan Barat, harus mulai tergantikan oleh pemikiran Timur (oksidentalis), yang memandang Timur dan Barat adalah sejajar. Agar tidak memperpanjang mentalitas ketidakpercayaan diri. Dengan mengedapankan kearifan lokal yang dimiliki dan local resources yang kuat, tentunya kita tidak harus bergantung kepada Barat. Bila kita masih harus berkaca kepada Barat, sama saja artinya dengan memperpanjang dan memberi legitimasi pada proses kolonialisme-imperialisme. Kedaulatan yang sebenar-benarnya harus mulai ditegakkan, sebelum hilang terhempas oleh desakan Barat yang membabi buta.(*)

2 thoughts on “Mengapa Harus ke Barat?

  1. Sebenarnya mendasar sekali. Semuanya balik ke teknologi. Pernah baca confession of economic hitman kan? disana dipaparkan bahwa proses pelistrikan pulau jawa pun sebenarnya juga jasa dari barat. Ketika suatu bangsa banyak menggunakan teknologi bangsa lain untuk hidup (teknologi = hakki), maka semakin tergantung juga bangsa tersebut dengan bangsa lain penyedia teknologi yang dipakai. Dasar banget kan? Kita tuh kayak mencontek tugas tanpa tahu isinya, jadi main salin aja di kertas. Akibatnya, jika ada yang salah, kita akan sulit sekali untuk meresolve. Jadi mau gak mau harus lari ke supplier juga khan?!! Solusi yang paling pasti menurut saya adalah, tingkatkan kualitas pendidikan –> berdampak ke meningkatnya penguasaan teknologi–> berkurangnya ketergantungan. Contoh, sekarang harga minyak mahal, seandainya negara kita ini punya ahli yang memadai tentang konversi energi seperti solar cell.. selesai sudah masalah.

  2. “Paradigma semacam ini, tentunya tak layak untuk terus dipertahankan pada masa sekarang, karena hanya akan menguatkan teori ketergantungan, yang memang diciptakan oleh Barat.”

    Jadi, Mari merubah Paradigme Mulai dari Anak-anak Kita, Mulai dari Sekarang !!

    Mas Arif, Solusi nya Mantap !! sayang sekali, Kualitas Pendidikan Kita memang msh dominan dibawah rata2 :(

    Tetap Semangat !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s