Mengapa Harus ke Barat?

Semenjak lama, pemikir orientalis telah berusaha keras untuk melakukan dikotomi antara Timur dengan Barat. Barat identik dengan kemajuan, kaya, dan berpendidikan tinggi. Sedangkan Timur selalu diasosiasikan dengan keterbelakangan, tergantung, dan miskin. Pada sisi tertentu disparitas antara Timur dan Barat memang benar ada, meskipun sebenarnya, mayoritas pembedaan itu lebih banyak direkayasa, sebagai bagian dari sekenario besar kolonialisme, Barat—Eropa terhadap Timur—Asia. Pemikiran tersebut, berusaha memberi legitimasi, bahwa Barat adalah lebih tinggi, lebih berbudaya, dan Timur harus selalu berkaca padanya—Barat. Dengan kerangka pikir orientalis, Timur akan terus-menerus merasa, kerdil, terbelakang, dan tak dapat hidup tanpa bantuan Barat. Paradigma semacam ini, tentunya tak layak untuk terus dipertahankan pada masa sekarang, karena hanya akan menguatkan teori ketergantungan, yang memang diciptakan oleh Barat.

Read More »

Runtuhnya Kearifan Budaya Indonesia

300px-worldbank_protest_jakartaRuntuhnya Madzhab Keynesian pada 1970-an mengharuskan Inggris dan AS untuk mengubah seluruh kebijakan ekonomi politik internasionalnya. Kedua negara ini memilih untuk kembali kepada konsep ekonom klasik Adam Smith, tentunya dengan sifat yang lebih liberal. Ajaran neoklasik –dikenal juga dengan neoliberalisme-, yang mengajarkan penghilangan campur tangan negara dalam setiap aspek kehidupan negara, menjadi pandangan baru bagi Inggris dan AS, dalam menghegemoni negara-negara di belahan dunia lainnya. Pasca robohnya tembok Berlin –simbol runtuhnya sosialisme internasional-, gegap gempita neoliberalisme, yang menginginkan unifikasi dunia di bawah kuasa modal (negara-negara maju) semakin menggurita. Berbicara neoliberalisme tidak terlepas dari gejala globalisasi yang ramai dibicarakan khalayak umum. Banyak orang menganggap, globalisasi identik dengan perkembangan teknologi. Begitu mendengar istilah globalisasi pastilah kita selalu mengasosiasikannya dengan teknologi informasi, perusahaan multinasional, dan komunikasi via satelit. Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan globalisasi? Held menafsirkan globalisasi sebagai hubungan keterkaitan (interconectedness) dan saling ketergantungan antar benua yang berbeda, dalam berbagai aspek, dari kriminal hingga aspek budaya, dari keuangan hingga aspek spiritual (Held, 1999).

Read More »